Darimana datangnya ‘Aku’

my big fam...

my big fam...

Banyak yang salah kaprah tentang Kasta, begitu juga saya. Sampai kemarin, masih saya menyalahkan kenapa ada kasta. Tapi ternyata saya yg belum memahaminya. Sering saya mengeluh, “kenapa kalo dengan orang yang tidak berkasta?” ungkap saya kepada aji (panggilan ayah di Bali untuk orang-orang yg berkasta). Masih saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang hal tersebut. Masih banyak tanda tanya dsini.

Sebagai perempuan yang berkasta, saya sendiri mengerti betapa beratnya harus berperilaku yang baik (tidak memalukan, menjaga perilaku), bukan berarti saya tidak berkelakuan baik.. haha.. cukup B di raport SMA saya untuk berkelakuan baik. Dan paling baik saya diam, kalem seperti sedang gelem (sakit). Tidak menjadi saya sendiri yang… yah, yg mungkin sedikit jail kalau diluar lingkungan Jero.

Sampai SMA, saya masih merasa menyebalkan menjadi orang yang berkasta (keegoisan waktu muda), karena bila saya berpacaran dengan orang yang (maaf) beda agama, sampai beda kasta, pasti akan datang beribu halangan tanpa juntrungan yang akhirnya saya lebih memilih menyerah pada keadaan, menyerah pada ego saya yang meledak sehingga saya lebih eksklusif (halaaah..selektif mungkin) dalam memilih pacar. Padahal tidak semua orang bisa bahagia dengan orang yang berkasta (aaaarrghhh…damn true).

Istilah kasta disebut dengan Warna, dimana di dalam Hindu, status seseorang didapat dari pekerjaannya.

Brahmana, yang merupakan golongan rohaniawan, atau golongan pendeta, jadi seseoang dikatakan Brahmana bukan diperoleh sejak lahir, tapi bagaimana dia menekuni ajaran keagamaan tersebut dan mampu memahami ajaran dengan baik, sehingga dapat menyampaikan kepada Ksatria, Waisya, sampai Sudra.

Ksatria, merupakan golongan bangsawan yang ada di dalam pemerintahan, menekuni bidang pemerintahan. Mampu untuk melindungi Brahmana, Waisya dan Sudra.

More

Advertisements