23.01.2009

Aku biasa menikmati suasana ini..Pagiku lenyap.. Malamku terjaga.. Aku selalu terlibat. Ingin pergi dari hiruk pikuknya.

Malam ini aku akan terlambat pulang, entah, mungkin juga tidak pulang. Ada perhentian yang panjang. Mungkin aku lupa jalan pulang. Tak sanggup aku mencari jejak yang kutinggalkan tadi pagi. Mungkin juga sudah terhapus hujan. Seperti hujan juga menghapus lukaku yang kian menganga. Perih tak terperi.

Engkau selalu mempesona. Haruskah kujemput lagi?

———————————————————————————————-

“Pagi berlalu lagi..

Membawa sisa-sisa rindu

seperti mendung itu

itu tanda langit rindu bumi

Jangan cemburu pada hujan pagi

Lebih baik kita berpeluk

Sebab ketika kita berangkulan

Ada kemesraan, ada kekuatan, ada kedamaian, ada kebersamaan, ada keberduaan, ada rasa kantuk, ada sedikt mabuk, ada kedamaian, ada rasa syukur, ada kedamaian, ada semuanya,

Termasuk cinta…”

(Arswendo Atmowiloto : Novel “Kau Memanggilku Malaikat”)

*untukmu malaikatku*

Advertisements

3 Cinta 1 Pria

Novel yang sedang aku baca, karya Arswendo Atmowiloto (tahu Senopati Pamungkas kan?). Begitu melihat review’nya di koran, aku langsung meluncur ke Gramed terdekat unruk mencarinya.. hehe

Bong yang jatuh cinta pada Keka, lalu Keka kecil lahir, yang juga tertarik dengan Bong. Keka generasi ketiga pun jatuh cinta pada Bong. Bong pernah berkata pada Keka, “Kalau nanti kita kawin, bukan berarti aku mengharapkan kamu berubah menjadi ibu anak-anak kita, atau menjadi penyedia makanan, atau penunggu pintu malam hari, atau menyukai lukisan. “Bukan. Kita kawin, karena kita percaya dalam tidur, mimpi kita bisa tetap berlainan.”

3 Cinta 1 pria

3 Cinta 1 pria

Lagi-lagi dibawa hanyut oleh novel ini.. mengalir begitu saja.. lagi-lagi tersentak, seketika kemudian melebur didalamnya. Benar, Cinta memang tidak menuntut tahu banyak atau sedikit, menikah atau berpisah, nenek atau cucu… Absurd..spontaneous..tidak tahu kapan datangnya. Kebetulan itu..

“Hanya orang yang paling kamu cintai yang bisa membuatmu patah hati… Itulah harmoni.”

Ah.. biarkan saja mengalir… πŸ™‚