Darimana datangnya ‘Aku’

my big fam...

my big fam...

Banyak yang salah kaprah tentang Kasta, begitu juga saya. Sampai kemarin, masih saya menyalahkan kenapa ada kasta. Tapi ternyata saya yg belum memahaminya. Sering saya mengeluh, “kenapa kalo dengan orang yang tidak berkasta?” ungkap saya kepada aji (panggilan ayah di Bali untuk orang-orang yg berkasta). Masih saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang hal tersebut. Masih banyak tanda tanya dsini.

Sebagai perempuan yang berkasta, saya sendiri mengerti betapa beratnya harus berperilaku yang baik (tidak memalukan, menjaga perilaku), bukan berarti saya tidak berkelakuan baik.. haha.. cukup B di raport SMA saya untuk berkelakuan baik. Dan paling baik saya diam, kalem seperti sedang gelem (sakit). Tidak menjadi saya sendiri yang… yah, yg mungkin sedikit jail kalau diluar lingkungan Jero.

Sampai SMA, saya masih merasa menyebalkan menjadi orang yang berkasta (keegoisan waktu muda), karena bila saya berpacaran dengan orang yang (maaf) beda agama, sampai beda kasta, pasti akan datang beribu halangan tanpa juntrungan yang akhirnya saya lebih memilih menyerah pada keadaan, menyerah pada ego saya yang meledak sehingga saya lebih eksklusif (halaaah..selektif mungkin) dalam memilih pacar. Padahal tidak semua orang bisa bahagia dengan orang yang berkasta (aaaarrghhh…damn true).

Istilah kasta disebut dengan Warna, dimana di dalam Hindu, status seseorang didapat dari pekerjaannya.

Brahmana, yang merupakan golongan rohaniawan, atau golongan pendeta, jadi seseoang dikatakan Brahmana bukan diperoleh sejak lahir, tapi bagaimana dia menekuni ajaran keagamaan tersebut dan mampu memahami ajaran dengan baik, sehingga dapat menyampaikan kepada Ksatria, Waisya, sampai Sudra.

Ksatria, merupakan golongan bangsawan yang ada di dalam pemerintahan, menekuni bidang pemerintahan. Mampu untuk melindungi Brahmana, Waisya dan Sudra.

Waisya, merupakan golongan petani, maupun pedagang. Yang memenuhi kebutuhan Brahmana, Ksatria, maupun Sudra.

Sudra, yang membantu golongan Brahmana, Ksatria, Waisya, agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dan dikerjakan dengan baik.

Catur Warna, keempat golongan tersebut saling membantu, tanpa ada tingkatan mana yg lebih tinggi. Status sosial dalam masyarakat yang didapat bukan dari lahir. Penyimpangan inilah yg terjadi.. Bahkan seorang Sudra pun dapat menjadi Brahmana apabila mampu dan mengerti ilmu keagamaan. Karena memang begitulah fungsinya. Maka diharapkan kepada anak-cucu yang terlahir dengan status sosial yang tinggi mampu melaksanakan kewajibannya. Banyak yg berpikir bahwa kasta didapat dari lahir, sehingga melupakan esensi dari Kasta itu sebenarnya. Kasta merupakan suatu anugrah kehormatan, yang diberikan karena jasa-jasanya di masyarakat. Maaf, saya hanya sedikit paham, mungkin masih butuh beberapa tahun lagi untuk meresapi.. haha

Kita sama, tidak ada bedanya, semuanya 100% hindu, dengan berbagai culture nya, huah, Sedang menikmati udaRa kebebasan, I’m working on it beib,,

Jadi, Don’t worry untuk para gadis berkasta diluaran sanaaaaa… hahaha.. Perjuangkanlah cinta!! Uhuuiii…

Keep an open mind… Let’s Break the Rule!! Feel Freeeeeeeeeeeeeee…

Love them so much...

Love them so much...odalan

16 Comments (+add yours?)

  1. sleepinrain
    Aug 18, 2008 @ 09:49:21

    “jadi seseoang dikatakan Brahmana bukan diperoleh sejak lahir”..
    btw nama itu pemberian sejak lahir bukan yah?

    kalau anak agung tidak selalu ksatria
    kalau ida ayu tidak slalu brahmana.

    harusnya kasta diperoleh saat dia sudah punya value, pekerjaan mungkin

    aku rasa ini baru fair. ^_^ peace no offence, just realistis.

    Reply

  2. Gung Dewi
    Aug 18, 2008 @ 15:08:29

    nama iyah, tp kan diharapkan menjalankan fungsinya membawa nama itu.

    haha.. it’s ok.. be real..

    Reply

  3. ws
    Aug 26, 2008 @ 14:40:40

    yooo!kita semua samaaa…..

    ni (gung) ws pake d jeroan aj!hyahahaha..biar boss2 ga ngomel!

    salam damai

    Reply

  4. jer
    Aug 30, 2008 @ 13:20:28

    izin comment…

    trims udah diizinkan=p

    pertanyaan2 yang sama pernah juga berkecamuk dalam pikiran saya. apalagi saat saya di luar Bali, kerap kali orang lain (indonesia, tp bkn Bali) menanyakan perihal kasta ini. bahkan yg sy kaget ada yg menafsirkan kalau sy kasta ksatria berarti duduk di deretan lebih depan saat sembahyang di pura dibandingkan dengan orang berkasta waisya dan sudra, PARAH!

    Hindu yang universal pun seakan punya noda sebab salah tafsir soal kasta ini.

    kasta terlanjur di-mindset-kan sbg sebuah hierarki, sbg suatu yang bertingkat tinggi rendah, ada yg lebih superior terhadap yg lain.

    padahal, itu adalah WARNA, menunjukkan fungsionalitas yang bersangkutan dalam masyarakat.

    dalam HINDU pun TIDAK ada kata KASTA, WARNA lah yg ada.

    dalam kekinian, warna itu sebagai penanda keturunan, semacam fam di manado atau marga org batak dan sejenisnya namun dalam skala lebih luas.

    hal mana bahwa orang2 dari golongan brahmana atau ksatria dihormati terkait sejarah dari zaman kerajaan dulu. karena memang brahmana sbg pengayom nilai agama (Hindu) dan ksatria sbg pelaksana pemerintahan (kerajaan)dipandang “agak berbeda”.

    “berbeda” dalam hal ini lazim2 saja, persis seperti misalkan cara anda menyapa kawan karib dibandingkan dengan cara bertegur sapa dengan seorang kiai.atau bicara dengan rekan di kelas dibanding saat dengan rektor universitas anda. berbeda, bukan?

    kini, yang tidak lagi dalam zaman kerajaan, salah paham timbul dari adanya sebagian keturunan brahmana dan ksatria yang mencoba mengultuskan kekastaannya sebagai hierarki yang mana ia harus diperlakukan spesial.

    dan untuk itu bersikap kolot dalam menjaga “darah biru” nya dengan hanya menikah sesama kasta, tak peduli apakah anak2 mereka sesungguhnya suka atau tidak.pemberontakan banyak disini.ketidakharmonisan keluarga juga menemukan tempatnya bersarang.

    tanpa disadari, knp sih orang menghormati kita? knp org bersedia membantu, misalkan “ngayah” atau gotong royong saat ada upacara keagamaan di GRIYA (brahmana) atau JERO atau PURI (ksatria)kita? tak lain karena mereka (brahmana & ksatria) dinilai oleh masyarakat memang benar2 memberi kontribusi dalam keseharian masyarakat.

    nah, kini mungkin mudah ditemui GRIYA atau PURI yang warga sekitar malas2an atau enggan membantu jika ada hajatan. sementara pihak yang bersangkutan marah2 berkoar seharusnya mereka dihormati!tanpa pernah menanyakan pada diri sendiri apa sih yang sudah ia lakukan bagi masyarakat hingga layak dihormati sedemikian rupa??

    di pikirannya hanya ada, SAYA INI KSATRIA, SAYA HARUS DIHORMATI!

    sekarang gini, knp ksatria di zaman dulu sangat dihormati? anda tahu knp. lalu knp sekarang ada yang tidak? jelas saja karena kelakuannya yang tidak sama seperti dulu.

    kurun waktu zaman kejayaan kerajaan yang cukup lama juga melahirkan adanya lontar-lontar, berisi aturan yang mengatur tata cara upacara setiap golongan warna. misalkan saja seperti tempat “nunas tirta” (minta air suci untuk kelengkapan upacara) yang berbeda.

    hal yang seperti ini masih relevan dan sepatutnya dijalankan, ketertiban adalah faedahnya. namun perihal harus menikah sesuai warna tidaklah mutlak bagi saya. yang semacam inilah yang merusak makna warna itu sendiri dan mengedepankan pengkotak-kotakan masyarakat.

    namun Bali, yang mengenal pemujaan leluhur, dimungkinkan memang adanya larangan tertentu, mungkin perjanjian leluhur dulu misalkan tidak menikah antara keturunan A dengan keturunan B yang bisa jadi A dan B berada dalam warna yang sama. hal ini sangat spesifik, mungkin dilatarbelakangi masalah tempoe doeloe.

    jika dilanggar memang akan berakibat sesuatu, namun biasanya akibat itu akan dapat dihilangkan lewat upacara. mungkin kasarnya menghilangkan kutukan. kenapa bisa? jawabnya, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

    percaya atau tidak hal ini memang terjadi.

    wah ga terasa dah panjang banget ni komen, maaf y, hehe
    saya jg org bali dari keturunan ksatria dan itulah pandangan saya. mungkin hanya menyentuh secuil permukaannya saja mengingat usia saya yang 24 tahun sangat jauh dengan sejarah itu sendiri.

    satu yang pasti, ada ajaran Hindu berbunyi “Tat Twam Asi” berarti aku adalah kamu, kita ini sama, dan saya sangat meyakini hal itu.
    cobalah menengok kedalam sejenak dan bertanya pada hati nurani, karena hati nurani mungkin wahyu Tuhan yang tak tertulis atau mungkin Beliau ada disana.

    salam =)

    Reply

  5. rainisfalling
    Sep 04, 2008 @ 03:41:52

    kasta adalah warna, tapi kenapa yang berhak mempelajari kitab suci hanya orang2 brahmana? berarti ada suatu penilaian yang memberikan value lebih pada kasta itu sejak lahir.

    karna saya melihat kitab-kitab hindu tidak sekuat kitab2 agama lain, lepas dari kontroversinya ^_^.

    saya yakin 80 persen orang hindu tidak pernah menyentuh kitab sucinya, mungkin juga kitabnya ada banyak versi.

    bagaimana kita mempercayai hal ini?

    jika hati nurani adalah bagian dari Tuhan, saya setuju. apakah hati nurani anda menerima hal ini. jika tidak, saya yakin aturan atau rules ini bukan berasal dari Tuhan, meskipun itu ada pada kitab suci. lalu kitab suci ini dari mana jika bukan dari Tuhan.

    thanks..

    Reply

  6. gdwgdw
    Sep 04, 2008 @ 09:01:27

    @gung ws : haha, bisa aja dirimuuu..
    @ rainisfalling : menurut saya sendiri, kenapa orang brahmana saja yg diijinkan karena beliau’lah yang diharapkan mampu untuk mempelajari (interpretasikan) kitab agama Hindu sehingga tidak terjadi salah tafsir, Bayangkan apabila banyak orang seperti saya yang ‘sedikit’ pemahaman, sehingga salah menangkap maksud ajaran dari Kitab Hindu sendiri. Saya percaya bahwa semua agama mengajarkan yang baik kepada umatnya. Dan hindu bukan agama yg mengekang ^^

    mirip seperti @bli jer :
    value lebih pada kasta itu sejak lahir.. sekarang ini tidak lebih dari sebuah tradisi menurut saya. terjadi perubahan perlakuan. Dalam Warna itu sendiri, semuanya saling melengkapi, sekarang kenapa orang ‘ngayah’ karena menghormati ‘ohh.. leluhur saya dulu membantu leluhurnya..’
    Ada juga orang SUDRA yg tidak ngayah,Ada juga orang KSATRIA yg gila hormat. sekarang beda jaman. semua seKolah, si Made, si Wayan, Si Putu dan Ketut, dulu?
    tergantung pembawaannya masing2..

    Kenapa Nama itu turun kepada anak2nya?
    kenapa harus dihilangkan? tidak salah kan tradisi itu diturunkan.. meskipun fungsinya itu sendiri sudah beda..

    Reply

  7. jer
    Sep 05, 2008 @ 15:35:37

    @rainisfalling,
    itu dulu bro, memang brahmana yang berkewajiban mengayomi umat lebih sering berurusan dengan kitab suci Weda. Nilai-nilai dr ajaran itu lalu dituangkan dalam media yang lebih mudah diserap masyarakat seperti cerita pewayangan, kidung dan kesenian lainnya.

    hal ini dilatarbelakangi tingkat pendidikan masyarakat yang berbeda terkait akses akan pendidikan yang tidak seperti sekarang. untuk mengerti nilai2 Weda lebih mudah bagi mereka lewat kesenian semisal cerita rakyat lewat pewayangan, mirip seperti sinetron2 lebaran, bedanya tanpa artis2 muahal gt,hehe

    lagi pula dulu, untuk mengerti Weda yang aslinya dalam bhs sansekerta sangat sulit, namun kini Weda sudah banyak terjemahannya, bisa cek di gramedia denpasar=)

    dengan demikian semua org boleh, bisa dan sungguh berhak bgt membaca Weda. namun dalam penafsirannya tetap harus mengacu pendapat ahlinya, dalam hal ini brahmana.

    jika sembarang orang menafsirkan semau gue, bs dipastikan muncul aliran-aliran “tandingan” yang memancing anarkisme umat yang menentang. kalau sudah begini, dimana sisi kedamaian yang merupakan nilai hakiki yang selalu ada di setiap agama??

    mengenai 80% org Hindu belum prnah menyentuh Weda, maaf bro, itu penelitian siapa?data dari mana?dan untuk apa buat penelitian begitu??

    Hindu sangat fleksibel, anda tidak harus menghafal Weda untuk menjadi Hindu. Hindu lebih menekankan implementasi nilai2 agama itu sendiri dalam kehidupan, ada banyak cara mencapai tujuan agama Hindu, ada lewat bekerja, ada lewat menekuni Weda, dll dan itulah cikal bakal warna itu sendiri.

    kalau mau buat penelitian, main2 aj bro ke LP-LP seantero Bali, data aj napi-napi dsana brp persen yg org Hindu, ini bs berguna buat para brahmana untuk mengevaluasi kinerja mereka. tp jangan kaget lihat hasilnya y=)

    Weda pokoknya memang ada 4 atau dikenal dengan Catur Weda, selain itu msh ada beberapa kitab yang merupakan turunan dari 4 diatas, biasanya mengupas hal2 spesifik dr 4 pokok itu.

    masalah “kuat-kuatan” kitab suci itu lucu skali. baru kali ini denger,hehe. tp kalau mau tahu nilai terbaik dalam Weda yg sekaligus “kekuatan” nya ya ajaran “Ahimsa” atau tidak menyakiti atau membunuh. terbukti kok, tentu semua tahu, negara yang bisa merdeka tanpa perang ya India dengan gerakan ahimsa Mahatma Gandhi.mau tahu siapa penentang kasta yg melenceng itu paling keras? ya, Mahatma Gandhi.

    jika anda tanya hati nurani saya, saya menerima warna, tp tidak dalam hal penyalahgunaannya.

    bagaimana pun juga, dunia yang damai adalah yang paling indah dan damai ada saat penerimaan atas perbedaan ada. kenapa Tuhan menciptakan dunia dengan begitu banyak perbedaan? geografis, musim, budaya, warna kulit bahkan cara kepercayaan kepada-Nya?

    itu agar kita belajar. belajar membangun dunia yang damai=)

    salam =)

    Reply

  8. sleepinrain
    Sep 07, 2008 @ 07:54:29

    baiklah, setuju sekali… tapi saya belum ngeh kenapa orang hindu dengan kasta A harus menikah paling tidak selevel dengan nya? ini ajaran atau kah egoisme pribadi/golongan/masal ?

    kalau bicara tentang tahanan, wajar.. saya yakin disana banyak orang muslim. mungkin yah? coba kita ke india? pernah tau? coba kita ke amerika pernah tau? ibarat mencari ikan di kolam kan bukan di gurun. ya mungkin di gurun juga ada ikan. ^_^

    memang kitab suci tidak harus dihafal, tapi di “imani”. kita bahas iman, iman artinya dihayati dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan berdasar perbuatan.

    wah, saya senang sekali kalau gramedia sudah ada weda. saya akan ke gramedia denpasar kalau begitu. mungkin wie bisa maketin.. hohoho…

    menurut pemikiran saya, saya percaya agama hindu adalah datang dari Tuhan(Allah). hal ini saya percayai karena historical. pada alquran disebutkan, banyak sekali nabi-nabi, dan kitab2.. mulai zabur, taurat, injil dan alquran. saya sempat mempelajari taurat, injil.. tapi ada juga suhul2 (ini seperti lembaran2) yang diturunkan pada nabi2 terdahulu sebelum zabur, banyak sekali nabi2 yang menerimanya. saya juga memperoleh beberapa sumber bahwa adam AS. pertama kali diturunkan ke dunia di india, di calcuta. jadi besar kemungkinan peradapan ada disana yaitu para nabi2 tersebut.

    saya mempercayai meski belum sepenuhnya bahwa ajaran2 nabi2 yang sangat terdahulu inilah yang menjadi cikal bakal hindu. wallahualam bissowab (hanya allah lah yang tau kebenarannya)

    islam di indonesia memang sangat rapuh, tanya kenapa? yah, karena islam di indonesia adalah adobsi dari ajaran2 hindu terdahulu, dengan menyisipkan islam di dalam hindu. memang kalau dilihat dari sisi hindu ini adalah penyelewengan ajaran. ^_^ tapi ternyata ini berhasil meraup customer islam yang besar di jawa. kenapa saya katakan ini, pada islam tidak ada acara setelah kematian sampai hari ke tujuh, ke 40, 1000 dsb… ini tetap dilakukan oleh rekan2 islam NU. padahal islam tidak ada ajaran seperti ini, bahkan setiap purnama pun di kampung nenek saya, dulu ada kebiasaan kenduri juga.
    ini mirip seperti upacara adat di bali. tapi doa2nya islam. cerdik memang para wali itu. ahirnya budaya ini menghilang.

    sepertinya panjang, saya senang berdiskusi dengan semua. bisa YM saya saja di “luthorauthor”.

    Reply

  9. jer
    Oct 14, 2008 @ 14:12:23

    halo, sy kira soal menikah adalah hak asasi, tanyakanlah pada orang minang kenapa harus wanita yang melamar pria. dan bukan rahasia, bahkan sering divisualkan dalam sinetron tv kita, orang kaya gengsi menikahkan anaknya dengan anak orang (yg mereka anggap) miskin (harta).

    soal ikan bahkan di mulut mister bean pun pernah ada ikan, bisa hidup karena mr. bean dalam adegan itu menahan ikan dalam mulutnya beserta air. dengan kata lain kemungkinan, meski kecil, selalu ada. tidaklah bijak memvonis sesuatu apalagi disertai persentase tanpa dasar perhitungan yang jelas.

    sy kurang paham sejarah, tapi dalam banyak tulisan menyebutkan Hindu adalah agama tertua di dunia. hipotesis tentang ajaran nabi yang sangat terdahulu yang anda kemukakan sy juga benar2 tidak tahu.ahli sejarah teologi mungkin bisa membantu.

    kemudian, agama bukan bisnis, customer itu cocoknya ditarik minatnya oleh perusahaan dagang. meski hanya analogi, orang (mungkin) dapat mengintepretasikan yang banyak customerlah yang terbaik.

    benar, penyebaran islam di tanah jawa memang setelah agama hindu.tapi tolong jangan katakan hindu lah penyebab rapuhnya islam di indonesia.statemen2 sejenis inilah yang kerap memicu keresahan dan salah paham. setahu saya sampai sekarang memang masih ada yang diistilahkan sebagai kejawen dan abangan itu di jawa.

    menyoal yang cerdik itu, para wali, yang sering disebut wali songo bukan? mungkin memang orang-orang seperti beliau ini yang mampu berdiri di garis besar sejarah, mungkin sudah utusan Yang Maha Tahu.

    dan Tuhan juga cerdik lagi murah hati, umat hindu yang ada tetap diberikan tempat di sebuah pulau kecil nan indah lengkap dengan budayanya yang lestari yang kini menjadi salah satu tujuan utama wisata dunia.

    sudahlah, apa yang terjadi di semesta ini memiliki alasannya masing-masing.

    dan ada sebuah joke menarik bercerita seperti ini: di alam semesta ini hanya ada 2 ruang, ruang pertama penuh dengan kedamaian dan kebaikan sedangkan ruang kedua penuh dengan pertikaian dan kebencian.
    ruang pertama dihuni oleh Khrisna, Budha, Musa, Yesus dan Muhammad sedangkan ruang kedua dihuni oleh pengikut-pengikut mereka.

    entah siapa yang dapat ilham menciptakan joke tersebut, yang pasti bukan tanpa alasan dan kita dapat belajar darinya.

    salam damai dari ruang ke dua=)

    Reply

  10. imsuryawan
    Oct 18, 2008 @ 05:15:19

    saya sudra! saya lahir! saya sekolah! saya bekerja! saya menikah! dan nanti saya akan mati! Dan semua manusia kurang lebih akan melakukan hal-hal yang sama seperti saya!

    Interpretasi kasta adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan umat Hindu di Bali! Kita hidup sebagai manusia, dihormati dan diperlakukan oleh masyarakat adalah karena apa yang sudah kita lakukan! Atas apa yang kita perbuat selama hidup kita!

    Saya benci di-judge karena kelahiran saya. Sebagai siapa saya lahir, sebagai anak siapa saya lahir, dan tetek bengek lain yang menyertai kelahiran saya! Karena saya tidak pernah bisa menentukan kelahiran saya!

    Masalah tradisi adalah soal lain. Dijaga? Setuju! Dilestarikan? Setuju! Tapi semua itu harus dikembalikan pada masing2 individu!

    Jangan harap saya akan mau duduk lebih di bawah daripada orang yang kastanya lebih tinggi dari saya! Apalagi menyembahnya! Dulu leluhur saya mungkin ya! Tapi tidak bagi saya, karena saya memiliki zaman saya sendiri!

    Hareee geeeneeee masi ngeributin kasta?! Di saat negara2 maju sudah baca koran online tiap pagi kita kok masi jalan di tempat! hehehe

    eh, btw.. ini bukan comment bwt gung wie, tapi buat orang2 di luar sana yang masi fanatik sama kastanya!😀

    Feel free.. for freedom!

    Reply

  11. Trackback: imsuryawan.net: Web Log of I Made Suryawan » Aku Benci Dinilai Karena Kelahiranku!
  12. dewarama
    Oct 22, 2008 @ 12:01:52

    salam kenal gung…

    Ngomongin kasta emang ga ada abisnya. Kalo kita menentang akan banyak halangan. Jika kita jalanin maka semua akan serba tenang.

    Pemikirin ortu memang kebanyakan masi jadoel. Tp perlu direformaasi kalo cinta memang bisa mengalahkan kasta. TAPI…. Cinta yang bertanggung jawab. Skr hidup tidak akan bisa hanya dengan cinta (seperti yg kebanyakan dilakuin para remaja).`Sekian dulu gung… mlali2 ya ke blog ku di http://dewarama.wordpress.com/

    Reply

  13. chik
    Oct 26, 2008 @ 07:57:36

    Hii… Gung, Chik nie…

    Setuju gung… kasta itu sebenarnya cuman warna atau status untuk membedakan pekerjaan. jadi kasta itu didapat dari pekerjaan yang mereka lakoni.

    Analogi untuk kasta pada jaman sekarang dapat dilihat dari pemimpin kepala negara kita. jika seorang menjadi pemimpin negara Indonesia, maka ia akan diberi “gelar” Presiden, misalnya saja bung Karno namanya menjadi Presiden Soekarna. “Gelar” ini tidak ikut diberikan pada keturunannya, contohnya Megawati Soekarno Putri. Tapi Megawati memiliki “Gelar” yang sama setelah ia menjabat menjadi kepala negara. seperti inilah seharusnya kasta tersebut. tidak seperti penyimpangan yang terjadi di Bali, sehingga menimbulkan kesalahpahaman mengenai pengertian kasta. Jaman Dahulu Seseorang yang menjadi Raja diberi gelar Cokorda, namun yang terjadi keturunannya sampai sekarang memiliki gelar yang sama yaitu Cokorda, padahal ia tidaklah menjadi seorang Raja. menurut saya ini hanyalah semata keinginan dari raja tersebut agar keturunannya tetap dihormati di masyarakat.

    Satyam Eva Jayate…

    Reply

  14. gungws
    Nov 02, 2008 @ 17:22:35

    uhuy..ikut ngramein ah…

    wah..setuju buat pak chik…!ilustrasi yng jelas!!
    saia sih lebih percaya hk. newton III, f aksi = f reaksi..ato di bali denger2 dikenal dengan ‘hukum karma’…
    ah..sudahlah…apapun itu, msh tetap ble nge-esKrim,kan!!??hihihi

    Reply

  15. SIge
    Nov 06, 2008 @ 10:42:26

    Wah asem, koment udah kek apa aja panjang-panjang. hehe, salam kenal. Sedikit meninggalkan jejak di blog ini.

    Menarik sekali menyimak tulisan ini, apalagi mengenai tradisi atau mungkin pas nya disebut budaya “kasta” di Bali. Dalam pemahaman saya, sistem kasta ini berlaku penuh pada masa kerajaan dulu, karena sistem kastalah yang paling efektif pada masa itu, sekarang kita bukan dalam Kerajaan, sehingga sistem kasta seharusnya tidak diberlakukan lagi,mengenai masih diberlakukan lagi sekarang ini hanya masalah pelestarian saja, mau ikut silahkan, mau enggak yo monggo.

    Memang bagi kita yang belum merasakan bagaimana peliknya menjalankan budaya kasta tersebut pastilah bisa dengan mudah mengatakan “iya” atau “tidak”, tapi bagaimana dengan si penulis blog ini yang adalah “pelaku kasta” tersebut? jawabnya hanya gek yang nulis blog ini yang tau.

    Ok, gitu aza dulu.

    Reply

  16. Dewi Pinatih
    Dec 04, 2008 @ 17:13:23

    setuju… perjuangkan cinta… *cinta sapa yg diperjuangkan yah… mikir mode on

    kadang pengen bilang masih bagus se”agama”, banyak amat permintaannya… bikin ribet😀

    eh salam kenal yah😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: