Profesionalisme diukur dari Sandal Jepit :)

Hati panas saat menerima BBM temen (BB punya temen *nebeng liat* :p ) saat liat Headline koran ini.

Dokter Muda ter-ekspose

Pemikiran saya dengan teman saya oponk dan dokter Deddy andaka mungkin tidak jauh beda 🙂

Well, bagai teguran kepada kami dokter muda yang sudah diingatkan bila ada yg mengatasnamakan “warga” merasa terganggu karena kami memakai sandal jepit.  Padahal saya lebih tertarik dengan Headline koran yang lebih dibawahnya :p hehe

Apakah penampilan merupakan tolak ukur dari isi otak kami dan profesionalisme sebagai seorang Dokter?? Kami bukan pegawai kantoran yang bekerja 8 jam sehari dan setelah itu langsung makan dan pulang istirahat dirumah.

Jam kerja kami (diluar jaga malam) jam 07.00 – 13.00, Kemudian jaga malam dari 13.00 – sampai jam 07.00 pagi keesokan harinya dan masih dilanjutkan dengan jam tugas poli sampai jam 13.00 lagi!! (meskipun kami jaga 3 hari sekali, itu juga jadi lumayan capek). Semakin membaca artikel yang dimuat koran ini. Semakin speechless saya…..

“Tengok saja perilaku puluhan dokter dan dokter co-ass (dokter magang) yang bertugas di RS Sanglah. Bila diperhatikan para dokter di rumah sakit terbesar di Bali ini melayani pasien alakadarnya. Mau bukti? Perhatikan saja penampilan mereka, terutama dari alas kaki. Saat berada di ruang perawatan, IRD misalnya, sulit dibedakan antara ruang perawatan dengan toilet umum”

  • haruskah saya make up dulu, kalo ada pasien gawat dan perlu dibantu tapi sedang nunggu dokternya mandi, berhias.. nantinya terkena cipratan darah.. kemudian mandi lagi.. berhias diri lagi.. ohmygod! Mas, saya sih mau juga tampil YAHUD tiap saat. Hahaha. Oh ya, kalo ga tau ruang perawatan nanti saya tunjukin jalannya. Di toilet ya mas  ga akan ketemu dokter nongkrong disana. Mungkin sekedar BAK iya…

“…….termasuk dokter magang yang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter berpenampilan ala pengunjung toilet”

  • Sakit hati! Saya sekolah 6 tahun, banyak yang dikorbankan. Termasuk jam tidur. Beruntung masih bisa tidur dan hibernasi 3 jam. Orang lahir ga akan langsung jadi dokter. Itu melalui proses, sebelum jadi dokter semua merasakan yang namanya dokter muda. Kami bukan sekedar masang infus, NGT, RT, nganter pasien CT SCAN dan Rontgen. Disitu kami juga belajar bagaimana menghadapi pasien dan keluarga pasien termasuk edukasi tentang penyakitnya.

Terlepas dari artikel ini yang membahas sandal jepit kami yang tidak bermerk serta warga anonim yang merasa terhina ato diremehkan dengan kami yang hanya memakai sandal jepit  akan saya jelaskan opini saya secara pribadi teknik pemilihan sandal jepit :p hehehe

  1. Sandal jepit nyaman dan memudahkan untuk bergerak
  2. Sandal ini khusus digunakan di areal rumah sakit, bukan jalan-jalan ke mall dan sebagainya.
  3. Tidak penting merk! Yang penting kebersihan sehingga tidak menimbulkan infeksi nosokomial dirumah sakit
  4. Coba tengok ke ruang operasi. Sandal khusus yang kami pakai adalah sandal jepit STERIL! Mungkin lebih bagus dikit dari sandal jepit kami, setidaknya kami diharapkan ke ruang khusus memakai sandal yang bersih.

Sudah cukup ada tanda ini, jangan ditambah kita ga bole pake sendal jepit lagi :p

Jika bentuk profesionalisme kami diukur dari sandal jepit kami, ketika berada di UGD saya akan berikan pasien sandal bukan obat. Kami mungkin masih dokter muda, tapi kesederhanaan dalam berpakaian kami bukan suatu hal yang akan membuat kami menjadi tidak sopan dalam berhadapan dengan pasien. Saran sedikit untuk koran ini mungkin jangan memuat berita opini oleh narasumber yang anonim.

Sip deh, semoga eksemplar naik karena ini. Adios! Hidup Sandal jepit!!!

*btw, saya sungguh salut anda bisa membuat judul yang fenomenal seperti artikel di bawah sandal jepit ini :p

ah.. hanya sekedar iseng, kalo pake pakean kaya gini gimana?? 🙂