PPD 69 – (Dokter Nenggel part 1)

Tidak terasa PPD sudah berjalan 3 minggu. Kami kebanyakan menginap dirumah warga. Kebetulan saya mendapat di Desa Taman Bali bersama 40 teman lainnya di Banjar Guliang Kangin untuk mendata masalah kesehatan yang ada di desa tersebut. Kami tersebar di beberapa desa Taman Bali, yakni Truna, Siladan, Umanyar, Sidawa, Kuning,  dan lain-lain.

foto2 sebelum pembukaan 🙂

More

Advertisements

Profesionalisme diukur dari Sandal Jepit :)

Hati panas saat menerima BBM temen (BB punya temen *nebeng liat* :p ) saat liat Headline koran ini.

Dokter Muda ter-ekspose

Pemikiran saya dengan teman saya oponk dan dokter Deddy andaka mungkin tidak jauh beda 🙂

Well, bagai teguran kepada kami dokter muda yang sudah diingatkan bila ada yg mengatasnamakan “warga” merasa terganggu karena kami memakai sandal jepit.  Padahal saya lebih tertarik dengan Headline koran yang lebih dibawahnya :p hehe

Apakah penampilan merupakan tolak ukur dari isi otak kami dan profesionalisme sebagai seorang Dokter?? Kami bukan pegawai kantoran yang bekerja 8 jam sehari dan setelah itu langsung makan dan pulang istirahat dirumah.

Jam kerja kami (diluar jaga malam) jam 07.00 – 13.00, Kemudian jaga malam dari 13.00 – sampai jam 07.00 pagi keesokan harinya dan masih dilanjutkan dengan jam tugas poli sampai jam 13.00 lagi!! (meskipun kami jaga 3 hari sekali, itu juga jadi lumayan capek). Semakin membaca artikel yang dimuat koran ini. Semakin speechless saya…..

“Tengok saja perilaku puluhan dokter dan dokter co-ass (dokter magang) yang bertugas di RS Sanglah. Bila diperhatikan para dokter di rumah sakit terbesar di Bali ini melayani pasien alakadarnya. Mau bukti? Perhatikan saja penampilan mereka, terutama dari alas kaki. Saat berada di ruang perawatan, IRD misalnya, sulit dibedakan antara ruang perawatan dengan toilet umum”

  • haruskah saya make up dulu, kalo ada pasien gawat dan perlu dibantu tapi sedang nunggu dokternya mandi, berhias.. nantinya terkena cipratan darah.. kemudian mandi lagi.. berhias diri lagi.. ohmygod! Mas, saya sih mau juga tampil YAHUD tiap saat. Hahaha. Oh ya, kalo ga tau ruang perawatan nanti saya tunjukin jalannya. Di toilet ya mas  ga akan ketemu dokter nongkrong disana. Mungkin sekedar BAK iya…

“…….termasuk dokter magang yang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter berpenampilan ala pengunjung toilet”

  • Sakit hati! Saya sekolah 6 tahun, banyak yang dikorbankan. Termasuk jam tidur. Beruntung masih bisa tidur dan hibernasi 3 jam. Orang lahir ga akan langsung jadi dokter. Itu melalui proses, sebelum jadi dokter semua merasakan yang namanya dokter muda. Kami bukan sekedar masang infus, NGT, RT, nganter pasien CT SCAN dan Rontgen. Disitu kami juga belajar bagaimana menghadapi pasien dan keluarga pasien termasuk edukasi tentang penyakitnya.

Terlepas dari artikel ini yang membahas sandal jepit kami yang tidak bermerk serta warga anonim yang merasa terhina ato diremehkan dengan kami yang hanya memakai sandal jepit  akan saya jelaskan opini saya secara pribadi teknik pemilihan sandal jepit :p hehehe

  1. Sandal jepit nyaman dan memudahkan untuk bergerak
  2. Sandal ini khusus digunakan di areal rumah sakit, bukan jalan-jalan ke mall dan sebagainya.
  3. Tidak penting merk! Yang penting kebersihan sehingga tidak menimbulkan infeksi nosokomial dirumah sakit
  4. Coba tengok ke ruang operasi. Sandal khusus yang kami pakai adalah sandal jepit STERIL! Mungkin lebih bagus dikit dari sandal jepit kami, setidaknya kami diharapkan ke ruang khusus memakai sandal yang bersih.

Sudah cukup ada tanda ini, jangan ditambah kita ga bole pake sendal jepit lagi :p

Jika bentuk profesionalisme kami diukur dari sandal jepit kami, ketika berada di UGD saya akan berikan pasien sandal bukan obat. Kami mungkin masih dokter muda, tapi kesederhanaan dalam berpakaian kami bukan suatu hal yang akan membuat kami menjadi tidak sopan dalam berhadapan dengan pasien. Saran sedikit untuk koran ini mungkin jangan memuat berita opini oleh narasumber yang anonim.

Sip deh, semoga eksemplar naik karena ini. Adios! Hidup Sandal jepit!!!

*btw, saya sungguh salut anda bisa membuat judul yang fenomenal seperti artikel di bawah sandal jepit ini :p

ah.. hanya sekedar iseng, kalo pake pakean kaya gini gimana?? 🙂

Friendship :)

Rin..Uchie..Wie

Huah.. ga kerasa hampir 4 tahun ini ketemu ditempat yang sama.. gila2an.. dkampus, jalan2 bareng, sampe jadi arena mengungsi dikala tanggal tua menghampiri. hehe. Persahabatan wanita2 ga waras dan sering merasa dirinya penting bagi khayalak ramai.. (maksudnya suka bikin heboh dengan suara yg double stereo). Well. Cerita kita mulai dari ktemu di Ospek Fakultas Kedokteran 2005 silam. hihi.. Liat ada anak satu, cina.. putih.. tidur dengan pulasnya ditembok padahal lagi kuliah perkenalan tentang kampus. Alhasil Kakak-kakak kelas dateng sambil bawa pistol mainan yg isi air.. dan…. disemprot.. huahaha.. memang kita ngantuknya setengah mati. Gara2 ga mau di semprot pistol air, akhirnya aku ditawarin Balsam oleh senior, dan langsung dioleskan di bawah mata. Alhasil aku langsung lompat2, mata berair, merah. sial. jd kena hukuman. Disuruh baca puisi, solanya ada senior yang pernah satu teater waktu SMA. Sejak itulah kenalan sama Suci.

Mulai kuliah pertama, satu diskusi sama orang Batak! gila, Horas!! hehe.. suaranya nyaring abis.. dan slengekan. Iseng2 nanya “kenapa lu kok milih Kedokteran dsini?” dia bilang “hmm.. soalnya gw pikir kalo kuliah di Bali, pulang kuliah, luarnya langsung pantai…”. Gubraaaaakkzz.. yg ini namanya Ririn Sihombing. hehe anaknya polos abisss… untung ga bawa ulos nya ke kampus.. hehe

Dimulailah hari2 ga jelas, dengan cewe2 ga jelas hidupnya, melakukan semua hal yg ga jelas. Sampe kita punya ritual sebelum ujian. Harus ke Pantai.. klo ga nanti kita ga lulus. hehe. Kadang sampe jam 4 pagi dikala suntuk2nya blajar, main ke pantai. Duduk2 ga jelas. Gosipin orang.. yah.. many things to do lah.. acara orang ga punya kerjaan. hehe. Syukurnya sampe skarang sih masih teteup kadar gilanya semakin meningkat. jadi masih nyambunglah kita kalo ngobrol.. hehe.. Yah, temen itu emang ga selalu ada. Meskipun kita kadang sering banyak berantem, beda etnis, beda pemikiran, punya pacar, jomblo, kita selalu punya temen dimana aja dan kapan aja. Luv u all guys 🙂 Nobody know where they might end up.. Lighten up your day 🙂

“Semoga sama-sama lulus, jadi dokter yg baik, n tetep bisa bergosip”

..us..

DoLang (Dokter Petualang) 3- Last Chapter

The Show Must Go On.. Gyaaaaaaaaaa…. yang lebih membuat gila adalah supir Truk yang ga karuan-karuan nyetirnya. “Tobatlah kawan!!” kata teman saya berteriak diatas truk. Seakan bawa barang-barang dibelakang. Terombang-ambing, hujannya jg ga kenal ampun, lumayan jauh juga desa kami ke desa pusat tempat acara malam diadakan. Fiuh, setelah setengah jam main rollercoster, akhirnya sampe juga kami ditempat acara dengan basah kuyup dan pucat pasi. hahaha

More

DoLang (Dokter Petualang)

Kersoskes 35Kegiatan Kerja Sosial Kesehatan (KerSosKes) XXV yang dilaksanakan di Karangasem Kubu pada tanggal 29 Januari 2009 sampai 1 Februari 2009 merupakan kegiatan rutin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang berlangsung dengan cukup baik. Setidaknya 1200 warga Karangasem-Bali mendapatkan kesempatan berobat gratis.

SpeCial thanks untuk bli Gede Nurhadi yang sudah menyumbangkan baju-baju layak pakai kepada kami, sehingga dapat disalurkan bagi warga yang membutuhkan 🙂

Day 1

Kami berangkat dari kampus dengan membawa semangat petualangan dan dedikasi tinggi terhadap almamater kami. Untuk mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan membantu semampu kami, selain untuk mengasah soft skill kami. Tiba di tempat tujuan Desa Abalon yang menjadi tempat pembukaan sebelum nantinya kami 200 orang dipecah ke 6 titik. Yaitu Desa Batu Dawa (Long Stone-sebutan temen2), Batu Giling (Rolling stone), Nusu (Nusu Paradise), Bantas, Dukuh, dan Juntal. Hari pertama kami melakukan bersih-bersih sambil menyiapkan acara Pelayanan Kesehatan dan Peyuluhan yang menjadi agenda kerja utama kami. Bagaimana mengubah Pola Hidup Masyarakat. Kami menginap di Puskesmas Pembantu desa Dukuh, kebetulan saya kebagian di Desa Dukuh. Hmm.. mandi harus nimba dulu.. hehe kamar mandi terbatas hanya DUA. Jadi sambil menunggu giliran bersih-bersih dulu dan sembahyang. Malamnya masak-masak, bikin kopi, ngobrol-ngobrol lalu tidur. hehe. ga begitu dingin ternyata. More

KERSOSKES 35

Fakultas Kedokteran

Menerima juga sumbangan buku-buku tulis, Pulpen atau pensil, sikat gigi, buku-buku cerita..

Mohon bantuannya kawan-kawan ^^

The Art of Science [2]

)

Calon Dokter 🙂


Pernah lagi suatu ketika sedang stase di satu bagian anak. Kami diharuskan mencari pasien, tentu saja anak-anak.. Fiuuuh.. menyenangkan ilmunya, tapi menghadapi anak-anak yang baru disentuh saja menangis, cukup merepotkan. Apalagi intimidasi dari keluarga pasien. nasib..nasib.. beruntung, pasien yg saya dapatkan rumahnya cukup dekat, jadi bisa mendekatkan diri dengan pendekatan demografis dulu sebelum bisa memeriksa anaknya. Penuh kesabaran menunggu anaknya selesai menangis [sedang demam 39 drajat jg saya saat itu]. More

Previous Older Entries