Sebuah Penantian Panjang

Apa kau masih melihatku di pintu masuk itu? Merindukanku dan memelukku saat pergi. Bangku taman yang sepi, dengan  lampu kota temaram. Cahaya bulan berpendar, senyap nyawa kenangan memasuki pintu hati. Kenapa kamu ada disana? Melihat segala kerapuhan dan mampu membaca semuanya.

More

Advertisements

Tanpa Batas

Aku pernah salah, berusaha mengenali hatiku, dan berpikir yang hatiku inginkan. Kali ini aku hanya ingin bertahan, atas apa yang aku percaya dan inginkan hari ini.

More

Bahagia yang Sederhana

Terimakasih untuk hal sederhana yang kutemui pagi hari.. Langit cerah tidak lupa beserta awan..
Untuk setiap hal yang kulihat di pagi hari..
Aroma kopi yang kau seduh, bunga yang kau tanam, dan rumput yang kau siram..
Kicau burung dan Ipod-mu yang saling bersahut-sahutan menyanyikan lagu..

Terimakasih, untuk hal sederhana yang membuatku tersenyum..
Wajahmu yang mendekat padaku,kukira itu ciuman tapi malah sendawa yang kudapat..
Kau yang datang memaki rindu,karena aku terlambat memberi kabar..
Kau dengan pakaian kerjamu, yang menyempatkan diri bertemu denganku..

Terimakasih..
Setiap tempat yang pernah kita lalui, bergandengan tangan erat.. Pantai berpasir, laut biru dan angin yang berhembus kencang, kita duduk sambil menikmati udara laut..
Untuk hatimu yang memberiku tempat meski belum lewat 2 purnama..
Untuk hatimu yang selalu terbuka menyambutku pulang..
Untuk setiap kesepian rindu ini, aku merindukamu 🙂

Bahagia memang sesederhana itu.. Sun sayang 🙂

Mawar Berduri

Aku mawar berduri.

Setiap aku tumbuh, duri-duri merajam luka tepat ditubuhku. Setiap aku bernafas, semakin perih dan tersiksa batinku oleh duri-duri ini.

Aku menguncup, aku takut jika mekar nanti, duri-duri ini akan membunuhku. Tapi kelopak-kelopakku sudah tidak sabar bermain semilir angin diterpa sinar mentari. Seekor ulat merayap perlahan di daunku. “kenapa kau bersedih,bunga cantik?”, tanyanya.

More

aku ingin berhenti

“Cinta itu tidak membuatmu bodoh, Ia hanya melumpuhkan logika”  ~ M.T

Aku merasa jauh. Karena kami berbelok ke arah yang berbeda, bertemu orang yang berbeda, melihat hal yang berbeda. Dulu terasa jauh karena jarak dan waktu, entah kenapa ini bukan jauh yang seperti itu lagi. Aku berhenti di persimpangan jalan dan berbalik arah mengikutinya. Ada perasaan takut ditubuhku, karena perkataannya saat itu sudah jelas, “pergilah, pilih jalanmu sendiri”,katanya. Diberikannya aku secarik kertas dan kemudian ia melangkah pergi.  Aku tidak bisa berhenti. Aku ingin berhenti. Aku ingin. Aku tersiksa terus mengikutimu menjadi bayanganmu.

Aku berjalan pelan, berbalik arah dan mengambil jalan yang berbeda. Aku duduk di trotoar membaca suratnya yang diberikan padaku, “Matahariku yang sendu, biarkanlah dunia berputar apa adanya, janganlah sekali-sekali ingin membuat semuanya kembali dan terulang lagi’,tulisnya. Aku menggenggam kertas itu erat-erat. Tangisku pecah, dadaku sesak. Samar-samar kurasakan rangkulan hangatnya seperti dulu, dan aku merebahkan kepalaku di bahunya. Menangis sekeras-kerasnya.

Perempuan itu bernama Wulan, sudah 2 minggu mereka berkenalan dan pergi bersama. Matanya bulat dan rambutnya hitam lurus lebih dari sebahu. Tipe perempuan masa kini menurutku. Sialan. Dia cantik. Aku bergegas turun dan berdiri dibalik tembok saat mereka melewatiku.

Aku sedikit lega, karena Ia menemukan perempuan yang cantik, sedikit cemburu karena itu bukan aku, sedikit marah karena teringat perkataannya tentang masa depan kami, semua yang sedikit-sedikit begitu malah membuat perasaanku campur aduk. Akhir-akhir ini aku cepat menangis. Aku yang sekarang bukan aku yang dulu, aku tidak pernah selemah ini. Aku juga tidak ingin. Aku sangat-sangat merasa jauh saat ini dan itu menyedihkan. Aku melihat pantulan wajahku, dan Oh, aku  terlihat menyedihkan. Aku masih suka mengiriminya postcard mengatakan betapa rindunya aku, dia pasti hanya tersenyum. Memang aku selalu tampak bodoh dimatanya.

Aku lelah. Aku ingin berhenti.

Tentang Dia

Dia sedang menatap cermin. Terlihat kacau. Kemudian dia mengambil gunting dan mulai memotong beberapa helai rambutnya, kemudian sedikit mencondongkan badan ke cermin, dan melanjutkan memotong rambutnya lagi. Helaian rambut berserakan di lantai, ia tersenyum puas. Lalu dia mulai mengambil gelas dan menyeduh kopi.

Dia kini duduk di teras rumah dengan secangkir kopi panas. Berusaha menghilangkan sakit kepala akibat sisa mabuk semalam. Pergi saat orang-orang mulai tidur, pulang saat orang-orang mulai bekerja. Dia mengenakan kaos abu-abu bermotif winnie the pooh dengan celana hitam pendek. Pikirannya berkelana, kembali saat laki-laki itu mulai meninggalkannya dan mengacaukan hidupnya. Dia menyesap kopinya perlahan…. Pahit,pikirnya.

More

Acceptance :)

“aku kangen.”, ungkapnya..

Aku terdiam, ada rasa semburat rindu mengalir. Aku bingung, tidak tahu harus mengetik apa. karena aku yang biasanya mengatakannya lebih dulu. Ada rasa mengumpat di hati ingin memaki. “kenapa baru sekarang..”.

“aku sering ngobrol sama kamu kok. Telepati. Cuma kamu lebih banyak diam…’, kataku..  Aku tersentak dengan jawaban darinya “aku ga pergi kok, aku hanya menepi dan menunggu angin sejuk berhembus. Berhenti bersedih, tatap ke depan musim semi akan datang….”,jawabnya.

More

Previous Older Entries