Mawar Berduri

Aku mawar berduri.

Setiap aku tumbuh, duri-duri merajam luka tepat ditubuhku. Setiap aku bernafas, semakin perih dan tersiksa batinku oleh duri-duri ini.

Aku menguncup, aku takut jika mekar nanti, duri-duri ini akan membunuhku. Tapi kelopak-kelopakku sudah tidak sabar bermain semilir angin diterpa sinar mentari. Seekor ulat merayap perlahan di daunku. “kenapa kau bersedih,bunga cantik?”, tanyanya.

“hai ulat kecil, aku ketakutan. Duri-duri ditubuhku tumbuh semakin hari semakin banyak. Aku tak kuasa menahan sakitnya.”, ucapku sambil terisak.

“oh, malangnya nasibmu. Kau tumbuh bersama duri yang mencabikmu. Bagaimana kalau mati saja? Mungkin saja duri-duri itu juga ikut mati. Senang bisa mengenalmu”,sahutnya, lalu merayap pelan meninggalkanku.

Oh, haruskah aku mati? Apakah ini satu-satunya jalan mengakhiri penderitaanku? Duriku bahkan menyakiti banyak orang.

Seekor kupu-kupu terbang rendah mengelilingiku, dan hinggap di kuncupku. “Hei, kau menangis.. ada apa?”, sahutnya.

“Aku menanti rona cerah kelopakku. Ia hadir bersama duri-duri bodoh yang terus tumbuh menyakitiku. Oh, aku ingin akhiri saja ini.. ‘, isakku.

“hahaha, begitu saja kau menangis??  Secepat duri itu tumbuh, maka itu akan terbayar dengan indahnya dirimu begitu mekar. Lihat, mereka menempamu oleh sakit sehingga begitu kelopakmu mekar, kecerahan dan keharumanmu mampu untuk membawa kebahagiaan pada makhluk sekelilingmu. Ayo biarkan hujan membasahi daunmu, lupakan sakitmu, biarkan kelopakmu merasakan bahagia walau hanya sedikit.”,ujarnya sembari terbang rendah berputar-putar lalu pergi.

Hujan turun rintik-rintik, tubuhku basah, tanah menjadi air genangan. Sedikit demi sedikit kelopakku mulai membuka. Kubiarkan satu persatu bermekaran. Rona cerah dan harumku berpendar bersama bau rumput basah. Hmmm.. kelopakku mekar sempurna, terlihat sempurna oleh titik-titik air. Tampak segar, berkilau dan rasanya aku bisa menahan sakit ini beberapa saat lagi. Mawar berduri kini bisa hidup bersama durinya.

“Lihat ma, bunga mawarnya sudah mekar. Indah sekali.”,ujar gadis kecil itu. “Hati-hati sayang, durinya akan melukaimu”, sahut ibunya.

Lalu. TASSSS.. aku tidak merasakan sakit lagi, kelopakku jatuh berhamburan. Oleh gadis kecil itu, dipisahkannya durinya dariku. Aku terkulai lemah ditangannya, tubuhku melayu merindukan cahaya dan rasa sakit itu. Aku menatap langit sebagai perpisahan. Kupu-kupu kecil terbang rendah membisikkan “lihat, durimu yang selama ini melindungimu, menempamu dengan rasa sakit sehingga kau bisa tumbuh di hutan liar ini, diluar lebih kejam…”,bisiknya. Aku diam. Merindu sakitnya….

Mawar

2 Comments (+add yours?)

  1. oponk
    Aug 24, 2011 @ 23:22:05

    intinya apa ya???saya belum menemukan titik terang..hahah

    Reply

  2. GungWie
    Aug 26, 2011 @ 11:57:11

    Titik buta gen ade pongo.. De bes sangetange.. Haha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: