Tentang Dia

Dia sedang menatap cermin. Terlihat kacau. Kemudian dia mengambil gunting dan mulai memotong beberapa helai rambutnya, kemudian sedikit mencondongkan badan ke cermin, dan melanjutkan memotong rambutnya lagi. Helaian rambut berserakan di lantai, ia tersenyum puas. Lalu dia mulai mengambil gelas dan menyeduh kopi.

Dia kini duduk di teras rumah dengan secangkir kopi panas. Berusaha menghilangkan sakit kepala akibat sisa mabuk semalam. Pergi saat orang-orang mulai tidur, pulang saat orang-orang mulai bekerja. Dia mengenakan kaos abu-abu bermotif winnie the pooh dengan celana hitam pendek. Pikirannya berkelana, kembali saat laki-laki itu mulai meninggalkannya dan mengacaukan hidupnya. Dia menyesap kopinya perlahan…. Pahit,pikirnya.

“Sakit kepala ini tak mau hilang. Sial!”, serunya sambil berlalu. Dia membuka laptop, Sign in ke account twitternya dan mulai membaca perlahan apa saja yang menarik perhatiannya. Membalas beberapa mention dan mulai mencari-cari…. Jemarinya lincah menulis dan matanya tak henti membaca, beberapa kali membuka-buka foto itu, dan berkali-kali juga terdiam lama melihatnya. Sungguh ia mulai terlihat gusar dan berkali mengacak-acak rambutnya.

Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghidupkannya. Tubuhnya mulai terasa hangat. Asap mengepul memenuhi ruangan, bibirnya yang merah mulai terbiasa menyesap racun nikotin itu membantunya berpikir. Mungkin. Badannya terasa lelah, sangat lelah. Tapi itu yang ia inginkan. Dia hanya ingin lelah sampai di rumah, dan tinggal menjatuhkan badan ke tempat tidur terlelap hingga pikiran tentang lelaki itu tidak mendominasinya setiap hari.

Hpnya berbunyi, seperti biasa, dari orang-orang yang akan mengajaknya sekedar nongkrong atau clubbing malam ini. Atau bahkan minum-minum di siang hari. Dia menyanggupi, bukan karena senang, lebih karena sedih atas penghabisan waktunya. Dia beranjak dari kursi, mematikan rokok,  dan bergegas mandi. Sayup-sayup terdengar alunan lagu Ipang, satu-satunya lagu yang ada di playlistnya.

“ada yang hilang dari perasaanku.. yang terlanjur sudah kuberikan padamu, ternyata aku tak berarti tanpamu, berharap kau tetap disini.. berharap dan berharap lagi…”

Pipinya terasa hangat. Butiran lembut air mata menghiasi pelupuk matanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: