Another Fiction Letter

hanya aku..” Kutunggu satu purnama lagi…”

Ctak..ctak.. Hari itu tak kunjung tiba. Lelaki itu tetap ditempatnya, menunggu seperti biasanya. Tidak ingin beranjak, mekipun perempuan itu tak kunjung datang. Hanya mata yang beradu, sesaat lelaki itu mematikan rokoknya. Tersenyum tipis seperti biasanya.

Ah, mata yang teduh.. tersimpan berjuta mimpi yang akan dipenuhinya kelak bersamaku nanti.

Dear Nanang, sudah lama aku tak bersurat padamu. Kuceritakan lagi satu kisah hidupku yang mungkin sudah kau tebak begitu surat ini sampai padamu. Dia masih disitu, ditempat yang sama. Kadang sambil membawa buku, dikala hujan dia memesan secangkir kopi panas. Sesekali melirik keluar, ditempat biasanya aku datang. Sering aku melihatnya dari kejauhan, dia masih disana. Susah sekali Nang, kali ini aku yang bego! Kukira engkau telah menerima surat darinya juga.

Kali ini pertemuan kami terjadi di rumah sakit. Yah, menyesal, kenapa rumah sakit ini tidak sebesar rumah sakit di Jakarta sana. Sambil membawa tas laptop yang kuberikan dia tersenyum di lorong, sambil menepuk kepalaku lalu berlalu. Aku tersenyum. Nanar mataku dibuatnya. Racun terindah cinta Nang.. begitu syahdu. Bahkan kata-kata tidak ada artinya dibuatnya. Kau tahu Nang, bahwa kata-kata begitu biadab membelah pikiranku. Aku bukan orang pintar Nang, yang bisa mencerna buku-buku Zen seperti menerjemahkan inggris-indonesia. Tapi ini bukan pikiran Nang.. aku tidak habis pikir, bagaimana bisa aku berpikir dengan perasaan. Kukira mereka kadang tak bersahabat. Logika Nang.. Logika! Saat ini aku sudah kehilangan akal. Namun kadang akal sehat tak begitu penting. Aku terlalu perasa!

Aku sudah kehilangan air mataku Nang, entah. Apa karena kelenjar air mataku sedang rusak atau aku yang mulai tidak perasa ini. Jika hanya sebuah kepastian yang tidak dapat kuberikan. Kenapa dia masih saja tetap menunggu disana Nang? Dalam matanya aku tahu bahwa aku tidak mungkin kehilangan dirinya. Tapi kenapa pikiran-pikiran ini yang membuatku merasa kehilangan dirinya. Seluruh lika-liku hidupku, untuk lelaki inilah aku datang. Tapi dengan jumawanya dia menghilang. Tergelak tawa romantisme pribadi. Pasir yang kuwarnai setiap hari, kali ini berlagak seperti pasir hisap. Ingin ditelannya aku hidup-hidup Nang. Bahkan aku sendiri yang membuatnya. Nang.. aku terjebak romantisme masa lalu Nang…

Apa harus kucari dia Nang?

6 Comments (+add yours?)

  1. Han Gibran
    Jan 10, 2009 @ 01:52:41

    perlahan-lahan cahaya sunset telah tenggelam,dimana awan melingkari atapnya kebumi.tak kala hujan akan gerimis disaat terik matahari.antara panas dan dingin yang renta dijiwa.kehidupan ini memang keras,sebagaimana kau terjal.perlahan-lahan akan lunak bila kau cerna dari makan garam yg asin itu.lepaslah seperti merpati terbang diawan sana.menari-nari meretapkan sayap-sayapnya,walau beban yang harus kau pilih tapi hati yang suci tak caci menumpas jeritan.buanglah kenangan yang lalu tebarkanlah benih cinta yang murni kembali.aku yakin kau bisa menggolakkan hati sebagai seorang bidadari di muka bumi ini. @Adult

    Reply

  2. imsuryawan
    Jan 10, 2009 @ 06:34:02

    apa kaden maksudne…

    Reply

  3. GungWie
    Jan 11, 2009 @ 09:29:45

    haha.. ape kaden bli.. bingung maseh..

    Reply

  4. SIge
    Jan 11, 2009 @ 17:34:54

    Hayah..hayah..lagi datang Bulan yah gung? wakakaa..

    .. aku terjebak romantisme masa lalu Nang…

    Hayah ini dia kek nya kerok nya..cuit..cuitt…

    Reply

  5. departa
    Jan 12, 2009 @ 01:48:57

    Saat temaram bulan tak lagi berikanmu keteduhan
    dikala mentari enggan berbagi sinar padamu
    dan semilir angin tak berikanmu kesejukkan
    Tak usah cemas dan kecewa
    padaku kau bisa berbagi resah dan galaunya hati
    Agar hilang serangkum lara dan duka
    berganti senyum yang indah dan abadi😀

    Reply

  6. rasti
    Feb 02, 2009 @ 05:48:28

    “Aku sudah kehilangan air mataku”
    hm, cadangan saya masih banyak sepertinya. hahaha🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: