Ayu Utami kena Sidang Susila

Beberapa bulan lalu saya habis membaca buku karya Ayu Utami, yang kali ini berisi tentang Naskah Komedi dan Catatan Perihal RUU Pornografi. Manusia itu sama seperti gunung, didalamnya ada lahar yg menggelegak, begitu jg manusia yg didalamnya banyak terdapat energi2 agresif..

“Buah dada itu tidaklah cabul. Sesuatu yang indah dan sensual itu tidak berarti cabul. Lihatlah, anak-anak bisa melihat keindahan payudara tanpa membuatnya jadi berdosa. Kitalah, orang dewasa, yang membuat payudara menjadi cabul, baik dengan cara mengeksploitasinya habis-habisan, maupun dengan menutupinya habis-habisan. Baik dengan menjadikan payudara tontonan, maupun dengan melarang payudara menampakkan diri sama sekali. Kitalah, orang dewasa yang membuat payudara menjadi tidak wajar”. seperti yang disebut dalam buku.

Disini diceritakan ttg seorang pria gemuk, yang tanpa sengaja membuka baju karena gerah.. tapi ditangkap oleh polisi karena melanggar norma susila yaitu mempertontonkan puting susu didepan umum, yang mana menurut UU Anti Pornoaksi dan Pornografi pasal 25 ayat 1 “Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual”

penghukuman akibat tirani Mayoritas..

lalu ada cerita RUU Pornografi yg sesungguhnya… nuansa baru dari Ayu Utami..

Salut.

Ketika Ujian Datang, Hatiku Bertanya

Ujian, tapi entah kenapa rasanya enjoy saja ngejalaninnya. Padahal pelajaran sekarang jauh lebih ‘menyeramkan’ bila dibandingkan semester lalu.

Mungkin karena materi sekarang jauh lebih dimengerti, atau dengan tata cara dosen klinik yg to the point cara mengajarnya. Tapi kadang saya merasa ini sudah tahap akhir dari stress saya ketika saya sudah tidak bisa lagi dihinggapi perasaan sakit perut menjelang ujian, ataupun tidur ga’ nyenyak sehari sebelum ujian. Kadar stress saya yang akut apa bisa dibilang membuat saya pasrah dalam menjalani semua hal. Mungkin. Ada yang bilang stress itu vitamin kehidupan. Mungkin saya harusnya sudah keracunan vitamin saat ini.

Ketika ujian kembali datang, rutinitas sistem kebut semalam tidak pernah saya jalani lagi. Belajarpun hanya seadanya. Berharap durian runtuh [ada residen yang datang ‘ngasi kunci jawaban sambil pura-pura mengawas ujian] boleh juga tuh. Tapi mungkin hanya di satu stase bagian tertentu. Enak juga.

Tapi apa esensi dari menjadi dokter sendiri? Seenaknya mendapatkan jawaban dengan mudah, apa karena itu Ibu Siti Fadillah S. mengadakan Ujian Kompetensi dokter karena tidak yakin dengan lulusan daerah sehingga perlu menguji dokter-dokternya yang kuliah hingga 6 tahun [sekarang 5 tahun, hebat banget].. ambil spesialis 4 tahun.. PTT 3 tahun. Betapa malangnya nasib saya….

Jadi, masih merasa jadi dokter itu enak? semakin lama  saya lupa ingin menjadi apa. Karena lagi-lagi disetiap ujian pun saya selalu  tidak bisa menjawab.

Saya mau jadi apa ya?

Pelatihan Blog FK

Huff.. setelah banyak buku-buku BLog ataupun yang sekarang ini sudah ‘tenar’ karena blog’nya banyak dibaca orang hingga dijadilkan sebuah buku, menantang saya untuk mencoba hal baru disini. Untungnya di Lembaga Pers Mahasiswa PCYCO FK UNUD ini membuat terobosan baru bekerja sama dengan Bali Blogger untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan tetang cara membuat Blog, sampai dengan cara mengelola Blog.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!